Kebudayaan Dompu dan Penyebarannya di Masa Lalu

M.Ramadhansyah

Hidup tumbuhnya segala kebudayaan itu seperti hidup tumbuhnya manusia, yakni …… yang menciptanya (human). Terkadang nampak pula kejadian-kejadian (proses) yang terdapat dalam hidupnya makhluk hewan (animal); juga yang ada dalam hidupnya tumbuh-tumbuhan (vegetatif).

Kemampuan manusia sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya untuk mengembangkan lambang-lambang yang bermakna telah membantu mempermudah hidupnya beradaptasi terhadap lingkungan. Dengan lambang yang bermakna itulah manusia menghimpun pengalaman dan pemikiran dengan membina hubungan sosial antar sesamanya secara efektif. Dengan lambang-lambang yang penuh makna pula manusia mampu mengabtraksikan pengalaman dan menyampaikan abtraksi itu ke generasi berikutnya, sehingga akhirnya mewujudkan kebudayaan sebagai warisan sosial.

Kebudayaan mencakup keseluruhan pengetahuan manusia, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan banyak kemampuan serta kebiasaan yang dikuasai sebagai anggota masyarakat. Mengingat keterbatasan usia manusia sebagai anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan yang aktif, maka diperlukan peremajaan selalu.

Wadah kegiatan enkulturisasi (kegiatan pendidikan dalam arti luas) yang nampaknya mulai memudar ialah berbagai bentuk upacara tradisional yang semula merupakan salah satu kegiatan simbolis untuk menanamkan nilai – nilai budaya pada anggota masyarakat, kini tinggal sisanya yang dikenal orang. Sifat edukatifnya telah menghilang dan apa yang tertinggal ialah sifat – sifat pameran kekayaan.

Kebudayaan itu ada waktunya lahir, tumbuh, maju, berkembang, berbuah, menjadi tua, mundur, sakit – sakitan, dan ……. mati. Kebudayaan, bila bertemu dengan kebudayaan lain, dapat berkawan atau berlawanan, jika, “ berkawan ” untunglah, karena ada manasuka, yaitu perhubungan normal, dan ini memberi kemajuan. Jika, “ berlawanan ” lalu kadang-kadang berakibat pengaruh paksaan (kultur imperialisme), dapat menyebabkan kemunduran atau kematian kebudayaan yang asli. Baik berkawan maupun berlawanan, kebudayaan yang lemah biasanya mudah terdesak oleh kebudayaan yang kuat.

Tatanan kehidupan masyarakat Dompu memiliki rentang waktu yang panjang sebagai sebuah siklus sejarah. Jika dilihat dari sejarah yang ada terutama pada saat Patih Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal yaitu Sumpah Palapa pada tahun 1331 Masehi.

“Saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa,

jikalau seluruh nusantara bertakluk di bawah kekuasaan Negara.

Kalau gurun, seran, tanjung pura, pahang, dompo, bali, sunda, palembang

dan tumasik sudah ditaklukan”

Maka berdasarkan sumpah tersebut dapat dikatakan bahwa pada tahun 1331 Masehi Kerajaan Dompo atau Dompu saat itu telah ada dan menjadi sebuah kerajaan yang cukup besar untuk ditaklukkan.

 

1. PENGARUH KEBUDAYAAN ISLAM TERHADAP PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT DOMPU.

Menurut sejarah, Islam masuk pertama kali di Dompu adalah pada masa kerajaan Dompu dibawah pimpinan Sultan Syamsudin yang memeluk agama Islam pada tahun 1520 dengan berguru pada Ince Inta yang berasal dari Aceh. Ince Inta ini sekaligus merupakan galara pertama di Hu’u yang memeluk agama Islam.

Sultan Syamsudin adalah putra Dewa Ma wa’a Taho dan oleh rakyatnya diberi gelar Ma Wa’a Tunggu karena keunggulannya dalam mengendalikan pemerintahan yang menerapkan Syariat Islam dan unggul dalam menyebarluaskan agama Islam di sapaju dana Dompu.

Sejak Islam menyebar, tatanan kehidupan masyarakat Dompu mulai berubah sedikit demi sedikit dari pengaruh yang dikenal dengan parafu.

Hal utama yang dilakukan dalam menyebarluaskan Agama Islam pada saat itu adalah menjelaskan keberadaan Allah S.W.T., sebagai pencipta manusia, mahluk, dan seluruh isi alam melalui Lima Rukun Islam dan Enam Rukun Iman.

Selanjutnya untuk mempertegas nilai – nilai Islam di masyarakat maka dalam kepemimpinannya, Sultan Muhamad Salahudin menggunakan semboyan yang dijalankan oleh kerajaan Dompu, yaitu :

Adat bersendi sara’

Sara’ bersendi Hukum

Hukum bersendi kitabullah

 

2.   ADAT DAN TRADISI

Masyarakat Dompu memiliki tradisi hidup yang cukup beragam yang dituangkan dalam bentuk kesenian dan disesuaikan dengan waktu, usia dan bentuk acara pada kehidupan sehari-hari. Dalam tataran kesenian, sejak agama Islam masuk dan banyak masyarakat Dompu memeluk agama Islam

Unsur-unsur nilai Islam selalu diterapkan kedalam kesenian tersebut, sehingga bentuk kesenian yang ada adalah corak tradisi Dompu yang mengandung nilai-nilai hidup Islami. Beberapa kesenian yang ada dan dipertahankan sampai saat ini dan akan di bahas adalah tradisi upacara adat 9Daur Hidup) serta pakaian.

A.  TRADISI UPACARA ADAT (DAUR HIDUP)

Upacara daur hidup yang dijalankan oleh masyarakat Dompu adalah merupakan sebuah tradisi turun temurun yang diwariskan sejak zaman kerajaan Dompu terutama setelah Islam masuk. Upacara daur hidup dimaksudkan untuk menghantarkan seorang individu kedalam tingkat sosial yang baru dan lebih luas sehingga perlu dilakukan upacara-upacara tertentu untuk menandainya. Pelaksanaan upacara ini berkaitan dengan tingkat peristiwa panjang hidup manusia mulai dari masa bayi atau kanak-kanak, masa puber, masa dewasa (menikah) dan masa hamil. Berdasarkan tingkat peristiwa panjang hidup tersebut, upacara daur hidup yang dilaksanakan oleh masyarakat Dompu, meliputi :

1)   Nika Ra Nako

Nika ra nako dalam arti bahasanya adalah suatu adat perkawinan menurut adat masyarakat yang juga disebut campo ra kaboro. Bila menyebut nika ra nako maka perkawinan tersebut bagi rakyat biasa sedangkan bila menyebut campo ra kaboro maka perkawinan tersebut adalah perkawinan bagi kaum bangsawan.

2)  Teka Ra Ne’e

Adalah suatu kegiatan menumbuk padi secara beramai-ramai ditempat berlangsungnya perkawinan, acara ini dilakukan oleh kaum wanita yang menumbuk padi pada sebuah kandei atau lesung dari tuan rumah yang terdiri dari 50 sampai 100 ikat padi. Tumbukan padi pada lesung ini akan mengalunkan bunyi atau eli kandei sehingga memberitahukan dan mengundang kaum wanita untuk datang, biasanya membawa padi untuk disumbangkan, padi ini akan digunakan untuk membuat mu’bu pangaha atau tepung kue.

3)   Kapanca

Adalah suatu upacara untuk pengantin wanita atau kadaha kantika. Ketika acara kapanca dilmulai, dibuka dan oleh beberapa ibu – ibu 5,7 sampai 9 orang tergantung kasta, untuk melakukan kapanca yaitu memberi rias dengan titik-titik putih atau hitam pada dahi dan telapak tangan.

4.    Nika

Setelah melalui beberapa acara seperti diatas, maka acara utama yaitu acara nika ra nako atau campo ra kaboro dilaksanakan yang rangkaian acaranya adalah terdiri atas :

a)  Lafa

Lafa adalah acara akad nikah yang menurut faham dan anutan masyarakat Dompu.

b)  Nenggu

Nenggu adalah menunggu kedatangan suami untuk duduk bersanding. Setelah acara akad nikah maka mempelai pria diantar ketempat istrinya untuk duduk bersanding, sebelum itu dilakukan acara caka yaitu menyentuhkan ibu jari tangan kanan si suami pada kening sang istri tiga kali, hakikatnya adalah persentuhan awal seorang pria dan seorang wanita secara syah.

c)  Tawori ro Pamaco

Acara tawori ro pamaco yaitu memberi selamat, sumbangan dan bingkisan kepada kedua mempelai biasanya berupa uang dan barang kebutuhan rumah tangga, kadang kala juga membawa seutas tali yang berarti memberikan sumbangan berupa hewan piaraan.

d)  Salama Loko

Salama loko atau dengan kata lain kiri loko adalah membetulkan letak bayi dalam kandungan ibunya, usia kandungan tersebut adalah pada saat 7 bulan atau 8 bulan. Acara ini dilakukan pada pukul 09 atau 10 pagi yang disebut waktu maci oi ndeu, dalam acara ini akan disajikan makanan wajib bagi para tamu ibu-ibu yaitu mangonco.

Sang ibu dibaringkan secara tengadah dalam kamar dibawahnya direntangkan beberapa lembar kain songket ( 5,7 atau 9 lembar kain ) yang berisikan uang receh, setelah itu selembar demi selembar kain songket yang menjadi alas tadi ditarik keluar, uang logam tadi dilemparkan kearah pintu untuk diperebutkan. Acara ini diiringi oleh zikir Asrafal Anam dan do’a-do’a dari para undangan.

e)  Cafi Sari

Adalah sebuah acara yang dilakukan setelah sang ibu melahirkan, acara cafi sari ini adalah membersihkan lantai dari bekas-bekas persalinan.

f)  ‘Boru

Merupakan suatu acara cukur rambut yang juga sering disebut dengan dore dana atau menyentuh tanah, acara ini adalah ditujukan bagi seorang bayi dengan mencukur rambutnya dan menyentuhkannya dengan tanah. Dalam upacara ini disediakan sedikit tanah kering diatas daun pisang muda dan rebung bamboo (dumu kakando) yang diberi alas talam doku kecil, pada ujung-ujung rambut si bayi diikatkan kepingan-kepingan emas murni atau perak yang berjumlah lima, tujuh atau sembilan tergantung kastanya.

g)  Suna Ra Ndoso

Suna ro ndoso adalah acara sunatan bagi seorang anak yang telah berusia lima atau enam tahun, biasanya acara sunatan ini juga disertai khitanan. Anak-anak yang disunat dan dikhitan dirias dengan sarung kuning.

 

B.  PAKAIAN

Dalam kehidupan masyarakat Dompu terdapat kebiasaan mengenai cara berpakaian, yang dilihat dari waktu mengenakannya adalah:

1)  Pakaian sehari-hari

Pakaian sehari-hari masyarakat Dompu walaupaun saat ini sudah mengalami kemajuan tetapi masih ada yang memepertahankan pakaian-pakaian yang bersifat tradisional dan turun temurun, pakaian-pakaian tersebut dibedakan atas :

(a)    Pakaian kaum wanita

Untuk wanita, dalam berpakaian sehari-hari mengenakan celana panjang sampai pangkal betis, baju kuru lengan panjang. Ketika keluar rumah memakai tenunan tembe nggoli atau tembe bali mpida dan to’du me’e. Pada saat menghadiri acara keramaian atau keluar dari rumah seperti ke sungai, ke sawah, bertamu dan sebagainya biasanya memakai Rimpu.

yang berasal dari tembe nggoli atau tembe bali mpida seperti mengenakan jubah saat ini. Rimpu ini adalah manivestasi ketaatan mereka akan ajaran Islam yaitu kewajiban untuk menutup aurat.

Rimpu sendiri terdiri atas dua macam, yaitu :

(1)    Rimpu Colo

Adalah rimpu yang dikenakan oleh kaum wanita yang sudah menikah dimana seluruh badannya ditutupi dengan tembe nggoli yang kelihatan hanyalah wajah, telapak tangan dan telapak kaki.

(2)    Rimpu Mpida

Adalah rimpu yang digunakan oleh kaum wanita yang masih gadis atau remaja, dimana seluruh badannya ditutupi dengan tembe nggoli, yang kelihatan hanyalah bagian mata saja, telapak tangan dan telapak kaki.

(b)    Pakaian kaum Laki-laki

Kaum laki-laki pada awalnya hanya memakai katente tembe seperti model celana pendek dari kain, badan diselubungkan dengan weri ditambah sambolo. Pakaian ini biasanya dipakai ketika ke sawah, ke gunung dan kesehariannya. Seiring perkembangan mereka mulai mengenakan baju koko, tembe dan sarowa ‘dondo.

2)   Pakaian Adat

Pakaian adat masyarakat disini dikenakan berkaitan dengan beberapa acara seperti Nika ra Nako dan Suna ra Ndoso. Dalam acara ini masing-masing mempunyai rangkaian yang panjang dan membutuhkan pelengkap seperti pakaian dan kelengkapannya. Beberapa pakaian adat disini adalah :

a)  Pakaian adat untuk acara nika ra nako

Pada acara nika ra nako pakaian adat yang dikenakan dibedakan menurut tingkatan status sosial pengantinnya. Berdasarkan tingkatan ini terbagi dua  bentuk pakaian adat,  yaitu :

(1)  Tingkatan bangsawan

(a)    Pakaian adat pada tingkatan bangsawan untuk pengantin laki-laki disebut Pasangi, yang terdiri dari baju bagian atas lengan panjang dengan leher tertutup di depan, kancing baju bae ciwi, celana panjang sewarna dengan baju, di pinggang dipasang siki yaitu kain songket sewarna dengan baju dan celana, ragam hias pada badan songket penuh dengan menggunakan benang emas, kain songket ini hanya dipakai sebatas lutut, untuk mengencangkan siki diikat dengan baba dari kain songket kemudian diikat lagi dengan salepe dari emas. Di pinggang depan sebelah kiri diselipkan sempari atau keris, pada kepala keris diikatkan pasapu monca. Warna untuk pakaian adat pengantin laki-laki ini adalah merah yang melambangkan keperjakaan.

(b)    Pakaian adat untuk pengantin perempuan tingkatan bangsawan memakai ‘baju poro atau ‘baju bodo sedangkan untuk tembe memakai songke ‘dala, ragam hias yang ada  pengantin laki-laki. Cara memakai songke ala ini disebut sanggentu palika dengan simpul wiru dibagian tengah belakang, dan untuk mengencangkan pinggang dipergunakan salepe dari emas. Warna ‘baju poro dan songke ‘dala yang dipakai pengantin perempuan bangsawan harus merah karena melambangkan kegadisan.

(2)  Tingkatan rakyat biasa

(a)    Pakaian adat pengantin untuk laki-laki biasa dari tingkatan rakyat biasa mendapat pengaruh Islam sepenuhnya, yaitu memakai kopiah, bajunya dua lapis baju kuru di dalam dan jumba di luarnya. Di pundak sebelah kanan disampirkan sorban reko yang kesemuanya disebut kale na’e.

(b)    Pakaian adat untuk pengantin perempuan tingkat rakyat biasa adalah menggunakan baju kabaya panjang, dirias dengan wange yaitu sanggul kepala yang dibelah dua pada bagian tengah yang disebut samu’u ncanga dihias dengan karaba atau bintik-bintik putih dari afu mama atau loko mbojo sebanyak 13 buah yang melambangkan 13 rukun sholat. Sedangkan untuk karaba diatur dengan kanggudu wadu riha, dengan jumlah 3, 4 dan 5. Angka 13 melambangkan 13 rukun sholat, angka 4 melambangkan 4 malaikat yaitu Jibril, Israfil, Mikail dan Israil. Serta angka 5 melambangkan lima waktu sholat. Pada bagian leher dikalungkan selendang warna hitam, pada bahu dikenakan satampa baju atau jima ancu.

b).  Pakaian adat untuk acara suna ra ndoso

Untuk pakaian adat pada saat acara suna ra ndoso, adalah bagi anak laki- laki yang akan disunat memakai ‘baju kuru dan jumba atau kale na’e yang merupakan pakaian muslim. Sedangkan untuk anak perempuan yang dikhitan memakai tembe monca, kawari, jima rima, jima ancu serta jima edi.

Wassalam,

M. RAMADHANSYAH PAHLEVI PUTRA, SE

Kebudayaan Dompu dan Penyebarannya di Masa Lalu
2 votes, 3.50 avg. rating (70% score)

About the author

Leave a Comment

Powered by WordPress | Deadline Theme : An AWESEM design

Breaking News :